Make your own free website on Tripod.com

SAAT KELAHIRAN

 

Senin, 21 Februari 2005

Pagi hari jam 04.30 JST, Bunda terbangun karena ingin buang air kecil. Bunda heran karena ada cairan yg keluar. Apakah Bunda mengompol di celana? Bunda merasakan cairan yg keluar semakin lama semakin banyak, apalagi kalau sedang berdiri. Warna cairan itu tidak seperti air seni. Bunda mulai berpikirc.jangan-jangan ini cairan ketuban??? Tapi karena diperkirakan waktu melahirkannya masih seminggu lagi, Bunda masih belum begitu khawatir. Lagipula Bunda tidak merasa mules. Karena masih tetap keluar, Bunda membangunkan Ayah karena khawatir kalau cairan itu adalah benar-benar cairan ketuban yang pecah. gBukan ketuban kali, khan belum waktunya, tidur lagi aja yah begitu kata Ayah. Tapi bunda tidak bisa tidur soalnya cairannya terus keluar.

 

Jam 07.30 JST, Bunda telepon rumah sakit dan mengatakan semua keluhan bunda. Mereka menyarankan untuk datang ke rumah sakit dan diperiksa. Sepertinya Ayah juga mulai khawatir dengan keadaan Bunda yang sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. Kemudian Bunda telepon taxi untuk mengantarkan kita ke rumah sakit. Sambil menunggu taxi, Ayah menyiapkan segala keperluan persalinan, yang sudah disiapkan Bunda sejak sebulan yang lalu. Akhirnya taxi pun tiba dan kita berangkat ke rumah sakit.

 

Jam 08.20 JST, kita sampai di Rumah Sakit Saisekai. Kita datang terlalu pagi dan uketsuke (front office desk-red) nya pun masih tutup. Kita menunggu kira-kira 20 menit sampai akhirnya dokternya datang dan Bunda dipanggil untuk diperiksa. Selesai diperiksa Dokter Sawai langsung telepon ke ruangan dengan menyebutkan semua kondisi Bunda dengan maksud supaya ditindaklanjuti di sana. Sawai sensei memberikan penjelasan, gcairan yang keluar memeng cairan ketuban, tapi berhubung kepala bayi belum turun ke panggul dan tidak disertai mules, maka Bunda harus di induksi untuk merangsang adanya pembukaan, kemungkinan lahirnya besok atau lusa, jadi sekarang urus segala keperluan administrasi kemudian menuju ke lantai 8 untuk rawat inaph.

 

Wahc.inilah saat yang mendebarkan bagi bunda, saat dimana perjuangan seorang perempuan untuk berjihad. Semua rasa bercampur, ada takut, khawatir dan cemas. Belum lagi membayangkan segala kemungkinan yang terjadi, AstagfirullahaladzimcYa Allah kenapa musti takut, bukankah ini saat yang ditunggu-tunggu. Bunda menarik nafas dan mengucapkan bismillahirrahmanirrahimc berusaha untuk tenang, menghilangkan semua perasaan yang tidak menentu dan berdoa supaya semuanya berjalan lancar.

 

Jam 09.45 JST, Bunda mulai masuk ruang bersalin. Pertama Bunda masuk ke ruang observasi. Bunda diminta untuk mengganti baju dengan baju steril yang disediakan rumah sakit kemudian Bunda diinfus. Cairan infus yang diberikan ada dua macam yaitu dextrose 5% yang berisi oksitosin, dan satu cairan lagi untuk mencegah terjadi infeksi pada bayi akibat pecahnya ketuban. Untuk membersihkan isi perut yang lain, Bunda diberi cairan supaya bunda buang air besar. Perut Bunda tidak lepas dari alat observasi untuk memantau keadaan Adek. Setiap 20 menit tetesan infus dinaikan 20 tetes karena bunda belum merasa mules.

 

Jam 12.15 JST, Bunda mulai terasa mules dengan kecepatan tetesan infus 120 tetes/menit. Tapi mulesnya belum terlalu sering masih 15 menit sekali. Duhcmulesnya ga enak banget yac.baru kali ini benar-benar merasakan mules karena mau melahirkan.

Jam 14.25 JST, Sawai sensei datang ke ruangan untuk memeriksa Bunda. Menurut hasil pemeriksan kepala adek sudah masuk panggul dan mulai turun, tapi pembukaannya masih belum lengkap. Bunda kembali ke ruangan observasi, kecepatan tetesan infus ditambah lagi menjadi 140 tetes/menit. Duhcmulesnya semakin menjadic Gak kuat deh Bunda menahan rasa sakitnya, tapi Bunda cuma bisa nangis hikschiksc.hiks. Hilang semua teori teknik pernafasan untuk mengurangi rasa sakit yang diajarkan waktu hmother classh dulu, yang ada hanya perasaan bencickenapa sakitnya harus sangat sakit seperti ini. Ayahpun habis Bunda marahin, Bunda cakar, Bunda gigit untuk menahan rasa sakit, tapi Ayah dengan sabarnya mengelus-elus punggung bunda dan memeluk bunda sambil tidak henti-hentinya membacakan ayat suci Al-Qurfan. Ayah memanggil perawat dan minta supaya Bunda tidak begitu kesakitan gimana caranya. Tapi perawatnya tidak memberikan apa-apa. Perawat hanya mengelus-elus punggung bunda sambil berkata giyacsakit ya daijoubu yo (gak apa-apa ya-red)g.

 

Bunda sangat gelisah sekali menahan sakit yang luar biasa. Sakitnya sudah seperti yang ingin buang air besar. Ayah pencet bel lagi untuk memanggil perawat dan memeriksa bunda. gWahcini kepalanya sudah hampir keluar, ayo segera dibawa ke ruang melahirkanh, begitu kata perawat itu. Bunda disuruh berjalan dari ruang observasi ke ruang melahirkan. Jaraknya memang tidak jauh hanya sekitar 5 meter, tapi bagi Bunda sangat berat untuk berjalan ke ruang melahirkan.

 

Akhirnya Bunda berada di ruangan melahirkan. Semua perawat, bidan dan dokter sibuk mempersiapkan semua peralatan melahirkan. Setelah semuanya siap Bunda diberitahu oleh Sawai sensei hbila mulesnya datang, tarik nafas dua kali kemudian keluarkan semua tenaga seperti kalau buang air besar (nge-dhen-red), bila mulesnya masih ada tarik nafas lagi dan nge-dhen lagih. Mulesnya datang, Bundapun mengikuti saran dokter. Satu kalicbelum berhasilcdua kali c.belum berhasil juga. Bunda diberitahu bidan yang mendampingi kalau teknik nge-dhen-nya salah. Seharusnya tenaga nge-dhen-nya bukan dipakai untuk berteriak tetepi agar Adek bisa keluar. Bidan itupun memberi support ke Bunda gganmbate nech. Sepertinya sawai sensei sudah akan memberikan analgetik untuk Bunda dengan seijin Ayah. Tapi belum obat itu disuntikan mulesnya datang lagi, bunda tarik nafas dua kalickemudian nge-dhen dengan sekuat tenaga guuurrgghhhhc.h. gSo..so..so jouzu yocso..so..so..h, bidan dan perawatnya memberi support. Dan akhirnya dengan tenaga yang luar biasa, Adek pun keluar seiring dengan terdengarnya tangisan pertama Adek. gOOOAAAAc.OOOOAAAh, Alhamdulilah suara itu menenangkan hati Bunda. Semua rasa sakitpun hilang seketika. Adek pun diperlihatkan kepada Bunda untuk Bunda peluk dan cium. SubhanallohcBunda menangisc. Ya Allah, Engkau telah memberikan gpermata hatih kepada kami. Begitu besar keagunganMu sehingga hamba bisa melahirkan mahluk kecilMu dengan selamat. Bunda tidak henti-hentinya bersyukur.

 

Alhamdulilahcalhamdulilahhcalhamdulilah..terima kasih ya Allah.